| Implementasi Dua Tahun RPJMD Aceh Tengah Diteliti |
|
|
|
| Ditulis oleh Humas Pemkab Aceh Tengah |
| Jumat, 01 Mei 2009 00:00 |
|
Takengon - Implementasi dua tahun Rencana pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Aceh Tengah diteliti oleh guru besar dari Fakultas Ekonomi Unsyiah, Banda Aceh. Pelaksanaan penelitian dua tahun RPJMD Selasa, (29/4) di Gedung Operation Rom Setdakab setempat dihadiri oleh seluruh pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah, (SKPD) daerah setempat. Prof. Dr. A. Rahman Lubis M. Sc menilai pertumbuhan ekonomi itu dapat dilihat dari aspek distribusi pendapatan dan lainnya. Karena belum tentu pertumbuhan ekonomi serta merta memberikan indikasi pada kesejahteraan masyarakat baik secara individual maupun kelompok. Sisi lain yang telah disepakati oleh pihak eksekutif dan legislatif adalah penyediaan lapangan kerja. Menyangkut pemberdayaan masyarakat, adalah pembangunan yang melibatkan masyarakat dan jaminan sosial serta pemenuhan kebutuhan masyarakat. Menurut Rahman, semua SKPD perlu mengevaluasi setiap kegiatan. Hasil dari evaluasi itu apakah nantinya Rencana Pembangunan Jangka Menengah, (RPJM) dan pengelolaan anggarannya membutuhkan revisi. Revisi di tahun kedua tersebut menurut Rahman untuk menghindari kekeliruan – kekeliruan pada masa mendatang. Proses dari evaluasi itu, katanya dapat dimanfaatkan oleh jajaran SKPD di daerah itu. Disamping itu juga perlu dilihat dalam pengelolaan anggaran. Semua indikator-indikator tersebut akan menjadi acuan, apakah RPJM telah terlaksana dengan baik atau tidak. Guru Besar Fakultas Ekonomi Unsyiah, Banda Aceh itu meminta para SKPD yang ada di daerah itu untuk dapat membantu pihaknya termasuk dalam pengumpulan data-data. Dia juga menyampaikan hasil data-data yang diperoleh dari masing-masing SKPD nantinya akan dilakukan cros cek. Seyogianya kunjungan kedua guru besar dari Unsyiah itu telah direncanakan sejak awal bulan lalu. Namun karena padatnya kegiatan, penelitian yang akan dilakukan barui dapat dilaksanakan dipenghujung bulan April ini. Sementara itu DR. Islahuddin yang juga Guru Besar Ekonomi Unsyiah dan anggota tim peneliti dua tahun RPJMD Aceh Tengah menyebutkan, bahwa para SKPD terlihat bersungguh-sungguh untuk melakukan evaluasi kerjanya. Kebanyakan kasus, anggaran terlepas dari RPJM. Karena RPJM dibuat sifatnya kualitatif. Angka-angka kuantitatif disajikan, namun katanya tidak pernah dihubungkan satu sama lainnya. Dari RPJM yang disajikan kata Islahuddin terdapat berbagai tantangan. Evaluasi selama dua tahun bagaimana menyajikan RPJM yang lebih sifatnya kuantitatif untuk mengukur kinerja dari masing-masing SKPD dari waktu- kewaktu. Untuk model-model yang bersifat kuantitatif, Tahun 2008 pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 6 Tahun 2008 tentang ukuran kinerja dan indikator-indikatornya. Hal ini akan menjadi basis bagi penyusunan standar pelayanan umum. Pendekatan-pendekatan yang perlu dilakukan adalah memperkuat semua indikator. Namun untuk mendapatkan peta kondisi daerah berdasarkan indikator, maka pendekatannya harus dengan parsitifator. Dia sangat berharap keterlibatan semua pihak. Karena banyak kasus juga RPJM hanya dipajang sebagai sebagai dokumen yang dianggap official. Sebelumnya, Bupati Aceh Tengah dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Asisten Administrasi Setdakab, Karimansyah, SE, MM menyebutkan selama kurun waktu dia tahun berlalu visi dan misi pemerintah Aceh Tengah yang dituangkan dalam RPJM membutuhkan komitmen dan partisipasi dari masyarakat, dan utamanya SKPD yang berada di garda terdepan. Untuk itu dia meminta seluruh pimpinan SKPD dapat merumuskan rencana program dan kegiatan yang selaras dengan RPJMD. Karena dokumen tersebut berisi penjabaran visi dan misi serta program Kepala Daerah. (Humas Pemkab Aceh Tengah) |





